Friday, March 19, 2010
Rindu di ujung sajadah
menoleh ke arah jam di pinggir bantal
nada jarum jam menyadarkan mimpiku
cepat bangkit, ambil air wudhu
aku rindu sosokmu
yang dahulu mengagetkanku
kau bersujud lama dan panjang
aku menangis penuh prasangka
kukira kau telah tiada
ternyata kau sedang berdialog
dengan-Nya
aku rindu sosokmu ibu di ujung sajadah
Puisi Anak Negeri
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Puisi Jiwa
Beberapa Mutiara Kata Karya Kahlil Gibran
"...kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang" (Kahlil Gibran)
"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan..." (Kahlil Gibran)
"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran)
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..." (Kahlil Gibran)
"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang" (Kahlil Gibran)
"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai... Dan, apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya" (Kahlil Gibran)
Puisi Cinta Kalil Gibran
Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati
bersamanya…
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh
Waktu
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.
Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.
Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.
malam2 di legoso
Sunday, April 12, 2009
सबूः harapan
Aku berjalan dengan tegar, hari demi hari. Kadang hati dan pikiran ini merasa bimbang atas apa yang yang telah terlewati…hidup memang tidak selalu tenang seperti air danau. Hidup kadang beriak seperti gelombang laut, mengalir seperti air sungai. Suatu keniscayaan yang harus kita hadapi. Perasaan takut, sedih, kecewa, juga senang, bahagia, dan tertawa datang silih berganti.
Fenomena seperti itu tidak hanya aku yang mengalaminya, kamu, dia, dan mereka pun tak lepas dari itu semua. Apa sebenarnya yang menjadikan seseorang untuk tetap eksis dalam mengadapi itu semua? Mungkin jawabannya adalah sebuah harapan, harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Iya, memang harus seperti itu. Kalau tidak demikian adanya, siap-siap lah kita ketinggalan, tergerus perubahan zaman, dan menjadi manusia marginal.
Sebuah harapan lah yang menjadikan kita tetap optimis mengarungi samudra kehidupan ini, untuk itulah kita sebagai nakhoda harus memiliki bahtera yang kuat dan baik, juga strategi dan kualifikasi yang mumpuni dalam menjalankan bahtera. Sehingga segala badai dan angin topan yang menghadang dapat kita lalui dengan baik. Tidak sedikit bahtera yang karam karena korban badai dan angin topan tersebut, mungkin problematikanya adalah bahtera mereka tidak terlaluu kuat dan tangguh atau mungkin kurangnya strategi dan kualifikasi nakhodanya. Namun, yang harus kita tananmkan di relung hati yang paling dalam adalah kesadaran untuk tetap optimis bangkit kembali dari keterpurukan. Sehingga sebuah harapan dan secercah cahaya bisa menerangi jalan hidup kita selanjutnya.
Ingat kawan ! kita tak sendirian, masih ada keluarga, teman, bahkan Tuhan YME yang menolong nakhoda yang diliputi kabut ketakutan dan kabut kesedihan. Mereka tidak akan tingggal diam. Kita harus yakini itu. Mereka sayang kepada kita, mereka tahu apa yang kita perlukan, dan mereka selalu menemani kemana kita pergi.
Dan akhirnya, sebuah harapan itu pun akan menjadi kenyataan yang manis, penawar rasa pahit yang kadang kita rasakan. Tak heran ada adagium "habis gelap terbitlah terang". Tak sia-sia Allah SWT berfirman: "sesudah kesulitan ada kemudahan".
Ciputat, 22 Maret 2009
Created by:
Nandar Van Buitenzorg
(e_yambad@yahoo.co.id)
Saturday, April 11, 2009
വിസ് udah
| T |
ahun ini, genap 10 semester aku berada di kampus UIN Syahid Jakarta, nggak ada kuliah, nggak ada pendalaman mata kuliah, dan nggak ada canda tawa bersama teman-teman seperti semester-semester awal. Semester ini aku udah sibuk dengan urusan skripsi, sebagian temen-temen juga lagi sibuk dengan skripsi, malah ada beberapa orang yang sudah memakai toga dan tentunya sudah ada gelar dibelakang namanya. Amy maniz, Shofa, Astri, dan Mulya ialah para pelopor di kelas MP A yang mendapat predikat sarjana pendidikan (S.Pd); Eva, Widya, Tati, Ema, dan Sumardi kemudian menyusul untuk mendapakan predikat tersebut.
Tak terasa sudah 5 tahun aku berada di kampus biru pembaharu, waktu begitu cepat berlalu. Kebersamaan dengan teman-teman kelas tak mungkin bisa aku lupakan. Berdiskusi masalah mata kuliah, presentasi makalah, bercanda, saling mengejek, jalan-jalan, makan-makan, bahkan kadang-kadang marah-marahan dan saling cemburu mewarnai rutinitas kami yang tak ternilai harganya.
Kini, aku dan temen-temen harus siap mengarungi samudra kehidupan, kehidupan sebenarnya yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Kami semua harus memikirkan masa depan agar apa yang kami cita-cita
Kawan,,,! Kita harus jaga tali silaturrahmi ini sampai kapanpun walaupun raga sudah jarang bertemu, waktu terus menyibukkan kita. Aku juga mohon do'a kalian semua, insya Allah bulan Juli nanti aku akan menyusul temen-temen yang lain untuk di wisuda. Mudah-mudahan semuanya lancar, tak ada masalah yang berarti, dan semoga ilmu yang aku peroleh berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Amien.
Tak lupa aku pun berdo'a untuk kalian semua. Khususnya bagi kalian yang belum siap untuk menyamatkan gelar dibelakang nama kalian, semoga Allah SWT memberi kemudahan dalam menyelesaikan keresahan dan ketakutan yang ada di dalam hati kalian. Karena aku yakin permasalahan yang sebenarnya bukan karena kalian tidak mampu untuk menyelesaikannya tapi karena ada suatu ketidakpastian yang kalian takutkan.
Kawan…! Kita tak sendirian, kita masih punya Tuhan YME, Dia telah menyiapkan jalan hidup yang baik bagi kita, Dia akan memberikan apa yang kita perlukan, oleh karena itu, Don't be afraid, don't be sad. Ayo bersemangat ! cayooo…
Ciputat, 11 April 2009
Temanmu,
Nandar VanBuitenzorg